Di Antara Stereotipe dan Jihad Intelektual dalam Gerakan Ke-PMII-an

Sebuah Renungan

Oleh : Abdul Kadir Jaelany

Secara istilah, stereotipe diartikan sebagai asumsi atau pelabelan terhadap sesuatu yang tidak didasari fakta. Kenapa stereotipe sering dilakukan? Hal ini dapat dilihat dari beberapa pertimbangan, terutama persoalan persaingan. Misalnya dalam konteks gerakan—persaingan dua bentuk gerakan atau lebih karena terkait perebutan kader atau hal serupa. Muncul ketakutan akan berkurangnya anggota di sebuah komunitas. Sentimen, isu, counter, dan sebagainya dilakukan tidak lepas dari kepentingan tersebut.

Pertanyaannya, di mana posisi PMII dalam dinamika organisasi yang ada?

Melihat PMII sebagai organisasi kajian yang menjadikan ḥablum minallāh, ḥablum minannās, dan ḥablum minal ‘ālam sebagai grand theory-nya, Aswaja hadir di tengah pergumulan dinamika gerakan intelektual dengan corak keasyariaan dalam menyemai kehidupan intelektual mahasiswa.

Irisan-irisan inilah kemudian memunculkan stereotipe kepada PMII dengan berbagai asumsi teologis, mazhab gerakan, kepentingan kekuasaan, dan lain sebagainya—sebagaimana di organisasi lain, baca Das Kapital langsung dicap komunis, dan seterusnya.

Kami PMII hadir bukan sebagai antitesis, bukan pula untuk mencari lawan atau musuh. PMII hadir sebagai bentuk tanggung jawab intelektual dan gerakan, bukan sekadar tanggung jawab organisasi. PMII mewadahi tanggung jawab intelektual yang beraroma gerakan dan berpihak kepada kaum mustaḍ‘afīn yang setiap hari mewarnai kehidupan sosial.

Di sinilah poin penting untuk mengurai ketakutan dan kekhawatiran dalam gerakan. Realisasi tanggung jawab intelektual dalam gerakan ke-PMII-an menjadikan ḥablum minallāh, ḥablum minannās, dan ḥablum minal ‘ālam sebagai dasar jihad intelektual dan jihad gerakan. Kajian-kajian yang dihadirkan dan dikembangkan bukan sekadar formalitas rutinitas atau program kerja, tetapi menjadi rutinitas kemanusiaan—rutinitas yang menyemai sejarah individu sosial kita.

Dengan demikian, menjadi keharusan untuk tampil terang-terangan, tanpa taqiyah intelektual, menampilkan PMII sebagai identitas yang terus dimunculkan. Dalam gerakan—dalam bentuk jihad intelektual—simbol menjadi penting. Tidak cukup hanya mengatakan “yang penting substansi” atau berada dalam sikap abu-abu; simbol adalah ruang di mana substansi dikobarkan.

Pada posisi tersebut, stereotipe dipandang sebagai bagian dari dinamika jihad intelektual dalam gerakan PMII. Dinamika stereotipe menjadi tantangan yang menguji segala asumsi yang dibentuk orang lain, dan sekaligus menguji konsistensi roda intelektual ke-PMII-an yang berfokus pada pembentukan kesadaran dan kritisisme yang paradigmatik (ilmiah–rasional). Ia hadir untuk mewarnai kehidupan intelektual dan kebudayaan mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup