Dari Gerakan ke Seremoni: Membaca Ulang KOPRI

Sama seperti tiap tahunnya, ketika kalender sampai pada hari peringatan, lembaga seketika menjelma festival. Kader-kader bermunculan bak bunga musiman, mekar serempak ketika berada di bawah sorot kamera dan terpampang pada baliho ucapan mentereng bernada gombal.
Pada hari itu, lembaga menjelma panggung: jargon dijahit indah, pidato dirangkai sedemikian rupa—tak ubahnya mantra kebajikan—seolah kewajiban telah mereka tunaikan hanya dengan hadir, menyampaikan doa, dan berfoto.
Dan yah, itulah KOPRI. Dirayakan sebagai nama, namun di balik panggung, tanggung jawab dibiarkan membusuk sebab tak pernah tersentuh. Ia hidup dalam slogan dan jargon pengabdian, namun mati dalam tindakan.
Padahal, secara esensi, KOPRI bukan sekadar tanggal lahir, melainkan sebuah proses sejarah panjang : membaca realitas perempuan, menyentuh luka struktural, dan berani berdiri di sisi orang-orang yang tak populer.
Namun seperti biasa, ketika festival usai dan panggung kemudian dilipat, ruang-ruang diskusi kembali kosong, layaknya rumah yang tak berpenghuni. Dan lagi-lagi, suara perempuan kembali tak terdengar.
Di titik inilah kepalsuan mulai terasa. Gerakan diubah menjadi serangkaian ritual semu yang tak memiliki tujuan. Kader-kader yang dengan lantang berbicara di depan mimbar mendadak bisu ketika dituntut untuk turun langsung ke lapangan.
Inilah sebuah ironi yang telanjang:
lembaga sosial yang lupa bersosial,
organisasi pengetahuan yang alergi pada proses berpikir.
Jika lembaga hanya hidup pada hari ulang tahun, maka ia bukan gerakan, melainkan sebuah monumen.
Naas, mereka masih menyebut diri “kader”.
Padahal, kader sejati adalah mereka yang tetap hadir ketika tak ada panggung, yang bekerja meski tak ada dokumentasi, yang setia pada proses, bukan sekadar perayaan. Tanpa itu, lembaga hanyalah museum jargon, dan kader hanyalah pengunjung yang datang setahun sekali.
Jika lembaga sosial hanya hidup pada seremoni, maka ia tak lain hanyalah sebuah ornamen—indah dipandang, namun tak pernah benar-benar bekerja.
Dan jika KOPRI hanyalah sebuah perayaan tanpa perjuangan, maka ia tinggal nama yang kosong dari makna, berada jauh dari cita-cita awalnya.
Sebab kau tahu, gerakan sejati tidak diukur dari ramainya perayaan, megahnya panggung, atau hebohnya pengunjung. Ia hidup dari sunyinya kerja yang tetap dijalani dengan setia.
Penulis Oleh : Ummi Kalsum Mahasiswa Universitas Al-Asyariah Mandar.






