ESAI NARATIF

Hidup Instan dan Pakaian Kotor: Potret Modernisme di Kota Polewali Mandar

“Banyak lagi pakaian, ayo pergi laundry,” ucap Febrianto, seorang anak sekret PMII Unasman. Di tengah kesusahan untuk membeli rokok, anak sekret seperti kami ini tetap terus menyisipkan sedikit uang untuk membersihkan pakaian yang telah lama menumpuk. Dan memang itu adalah sikap dan sifat malas, walaupun sebenarnya tiap hari tidak ada kerjaan yang perlu begitu dikerjakan dengan urgen sebagaimana orang-orang kantoran di luar sana.

Dan kita tahu bahwa hidup di perkotaan dengan segala kemudahan seperti di zaman sekarang, semua kehidupan manusia dipaksa untuk terus hidup instan. Dari makan hanya sekadar beli mi instan hingga pada pakaian yang ingin dibersihkan juga perlu ekstra instan. Cukup hanya dengan modal 15–20 ribu rupiah kami sudah mampu bersantai dan menunggu waktu esok untuk kembali memakai pakaian yang telah diberi pewangi oleh jasa laundry tersebut.

Padahal kami semua besar di pedesaan, bahkan mengenal kata laundry saja pun kami tidak tahu, apalagi untuk menitipkan jasa cuci kepada orang lain? Sama sekali tidak pernah. Tapi setelah beranjak dari kampung ke kota, hidup instan itu mulai terlihat dan menjadi budaya kami, seakan-akan tubuh yang tadinya kuat malah berevolusi jadi rentan bak orang kaya yang terus dimudahkan hidupnya dari uang yang mereka miliki.

Itu baru kami yang tidak punya begitu banyak kesibukan. Bagaimana dengan orang di luar sana yang secara jelas punya kesibukan tiap hari? Bisa jadi kemalasan dan ketidakpunyaan waktu senggang memberikan mereka peluang untuk menitipkan jasa cuci kepada orang lain.

Artinya, bahwa di balik kesibukan warga kota dan evolusi tubuh yang rentan akibat malas, menandai tingkat permintaan cuci baju yang begitu besar sehingga orang lain melihat bahwa ini adalah peluang untuk meraup keuntungan.

Kalau kita keliling Kota Polewali Mandar, usaha laundry ini ada di setiap sudut kota, dari gang kecil hingga gang besar (jalan raya), bahkan ada yang bersampingan. Teori bisnis persaingan pasar yang akan membunuh usaha lain yang tak punya inovasi juga tak akan relevan melihat realitas ini.

Selain itu pula, terkadang ada beberapa tempat laundry saking antreannya kita bahkan menunggu 2–3 hari, seakan-akan akumulasi dari pakaian kotor warga Polewali Mandar dilemparkan ke semua jasa laundry tersebut.

Usaha laundry sebagai jawaban bagi masyarakat kota yang serba instan ini menandai kehidupan pola hidup modernisme, di mana semua elemen kehidupan masyarakat hanya bersandar pada kemudahan, efisiensi, dan apalah itu. Ia membentuk ulang cara manusia dalam memperlakukan tubuh dan waktu, ya seperti kami misalnya, yang selama ini hidup di desa dengan kemandirian untuk mengerjakan kerjaan domestik, namun dengan tuntutan zaman menjadikan laundry ini sebagai kebutuhan sehari-hari. Kerjaan yang tadinya bisa dikerjakan sendiri malah diberikan kepada orang lain, yang penting kita punya uang.

Kalau kita misalnya mencoba untuk kembali mengulas bagaimana persoalan mencuci pakaian ini terus mengalami perubahan, kita bisa melihat kejelasan tentang pola hidup itu berubah. Dulu, sejak kecil ibu saya mencuci dengan cara manual hanya dengan modal sikat, sumur, dan sabun. Kerja keras pun dilakukan, terkadang dari kompleksitas kerja domestik yang begitu banyak ibu saya marah-marah pada hal yang sepele, mungkin karena faktor capek. Ya, saya rasakan itu, capek juga mencuci pakaian dengan cara manual. Setelah itu, maraknya mesin cuci dan didistribusikan ke desa, ibu saya kemudian beli mesin air untuk membantu mengisi mesin cuci tersebut. Jadi ia tidak lagi memakai sumur, hanya bermodalkan kekuatan listrik baju-baju itu kemudian mampu dicuci dengan bersih bahkan disertakan dengan pengeringnya. Dan setelah saya beranjak dewasa duduk di bangku kuliah, barulah saya mengenal tentang usaha laundry ini. Uang menjadi kuncinya.

Aktivitas yang dulu sepenuhnya bergantung pada tenaga fisik, waktu, dan kesabaran seperti mencuci manual dengan sikat, sabun, dan air sumur perlahan berubah seiring hadirnya mesin cuci dan mesin air. Perubahan ini tidak hanya meringankan beban kerja domestik, tetapi juga menggeser emosi dan relasi dalam rumah tangga: lelah yang berkurang berarti kemarahan yang perlahan mereda, ya contohnya ibu saya.

Namun, perubahan itu tidak berhenti pada mekanisasi rumah tangga. Ketika jasa laundry masyarakat perkotaan, mencuci pakaian sepenuhnya beralih dari kerja fisik menjadi kerja berbasis ekonomi. Uang menggantikan tenaga, dan kepraktisan menjadi nilai utama. Di titik ini, mencuci tidak lagi sekadar urusan kebersihan, melainkan cerminan gaya hidup instan yang ditopang oleh logika pasar dan efisiensi waktu.

Kabar baiknya ialah tingginya permintaan untuk mencuci pakaian kotor ini memberikan peluang bagi masyarakat perkotaan untuk membuka usaha laundry tersebut dan menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan, apalagi seperti penulis paparkan di atas bahwa persaingan usaha misalnya yang mengandalkan inovasi dan teknis pemasaran tidak relevan lagi kalau berbicara tentang usaha laundry ini. Sebab kebutuhan pasar bahkan nyaris tak pernah surut sampai kiamat terjadi.

Lagi-lagi, laundry hadir sebagai jawaban atas kehidupan kota yang serba instan, di mana kemalasan, kesibukan, dan efisiensi bertemu dalam satu kebutuhan bersama. Apa yang dulu dikerjakan sendiri kini dititipkan kepada orang lain, bukan karena tidak mampu, tetapi karena zaman menuntut kemudahan. Dari sini, mencuci pakaian tidak lagi sekadar urusan kebersihan, melainkan penanda modernisme dan logika pasar yang terus hidup dari kebutuhan sehari-hari manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
Exit mobile version