ESAI NARATIF

Neoliberalisme dalam Ruang Hidup Petani Lokal

Visualisasi Oleh AI

Neolib menjadi momok besar bagi bangsa yang beragam ini, bagaimana tidak ia mencoba menghilangkan identitas kebudayaan lokal; dari sistem politik, budaya, ekonomi hingga pada taraf kehidupan masyarakat sekitar. Neoliberalisme, anak dari kapitalisme, bahkan telah masuk dalam tulang sum-sum manusia. Kata ini menjadi metafora bahwa kapitalisme telah mengakar kuat mencengkeram bangsa Indonesia.

Narasi panjang tentang neoliberalisme di tulisan saya sebelumnya mengandaikan sistem yang memberikan kebebasan individu untuk memperkaya diri yang nantinya akan menciptakan kemakmuran bagi bangsa dan negara, sebab dipercaya akan memberikan kekayaan merata hingga taraf akar rumput, dengan sistem yang ia sebut dengan trickle down effect. Kekayaan harus muncul dengan pemberian kesempatan pada individu untuk memaksimalkan modal yang ada.

Praktik-praktik neolib telah masuk dalam tulang sum-sum masyarakat, diikuti dengan kebijakan pemerintah yang mendukung sistem ini – dan kita semua tahu bahwa praktik-praktik neoliberalisme mulai muncul setelah diangkatnya Soeharto menjadi Presiden Indonesia – dengan dalih bahwa krisis terjadi maka Indonesia perlu diselamatkan dengan kebijakan-kebijakan pembangunan secara cepat dan efisien. Tidak tanggung-tanggung, Undang-Undang Pokok Agraria Bung Karno kemudian diganti dengan Undang-Undang Penanaman Modal Asing.

Kebijakan pemerintah Soeharto sendiri diketahui dengan slogan REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang berfokus pada industri, infrastruktur, dan swasembada pangan. Yang menarik adalah swasembada pangan yang dilakukan oleh Orde Baru tidak menemukan titik kesuksesannya; revolusi hijau tak juga membuahkan hasil, namun lebih parahnya malah menjadikan bangsa ini tidak mampu swasembada pangan.

Revolusi hijau sebagai proyek strategis Soeharto untuk menunjang swasembada pangan di atas malah hanya berfokus pada satu jenis pangan saja yaitu padi. Belum lagi padi yang dimaksud harus sesuai dengan bibit varietas unggul yang diciptakan oleh para peneliti asing, kemudian dihamburkan kepada lahan-lahan yang telah dibuka. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia pun ikut serta dalam meramaikan kebijakan tersebut.

Dampak dari Kebijakan Neolib

Ini bukan hanya soal proyek pembangunan jangka panjang untuk pangan yang berkelanjutan, namun lebih dari pada itu semua terdapat sikap monokultur, modernisme, serta kapitalisme yang terintegrasi masuk dalam ruang-ruang kehidupan masyarakat lokal bak tumbuhan menjalar yang siap mengikat objek-objek yang ada di sekitarnya.

Sehingga upaya pemusnahan pangan lokal itu menjadi nyata, identitas rakyat akan hilang secara sistemik. Narasi tunggal swasembada pangan yang dibuat oleh elit penguasa telah menghilangkan identitas asli kelompok akar rumput, dan ini yang disebut dengan penjajahan gaya baru.

Mengapa demikian? Sebab krisis pengetahuan pemerintah mengenai identitas rakyat Indonesia, ketidaktepatan kebijakan sekali lagi membunuh kedaulatan rakyat. Mereka harus dipaksa untuk mengikuti ego kapitalistik pemerintah, dan lebih parahnya hingga kini tidak ada rezim yang betul-betul paham akan hal itu.

Kami pernah mengunjungi salah satu desa yang ada di Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, Desa Ratte yang masih terisolasi dari dunia modernisme. Namun hingga pada hari ini nilai-nilai mereka mulai tergerus akibat tuntutan zaman yang makin hari makin tidak menentu.

Desa Ratte, kami masih menemukan pangan lokal yang terus dilestarikan oleh mereka seperti umbi-umbian, tebu telur yang kaya akan nutrisi, dan yang menarik jenis padi lokal yang tidak sama dengan kondisi yang ada di dataran rendah. Mereka menolak bibit varietas unggul yang banyak dijual di pasaran, sebab bibit padi lokal mereka masih menggunakan praktik-praktik tradisional dalam menjalankannya.

Ketika padi lokal ini ingin ditanam maka yang ia lihat bukan pada persoalan air yang melimpah, namun pengetahuan leluhur yang berperan dalam hal itu. Masyarakat lokal menyebutnya Sue’be’, seorang yang dipercaya punya pengetahuan pertanian yang akan tetap menjaga lahan pertanian dari proses tanam, menjaganya dari hama, hingga sampai pada akhirnya panen.

Proses yang murni organik ini tanpa menggunakan irigasi yang dibuat oleh pemerintah, pestisida, dan pupuk kimia adalah potret identitas masyarakat Ratte. Belum lagi pengetahuan leluhur sebagai senjata untuk bertempur dalam pusaran peradaban, menjadikan persoalan pangan di Ratte tidak pernah bermasalah.

Namun hingga pada akhirnya mereka kalah. Pangan lokal seperti ini diabaikan, penggunaan anggaran, penelitian, dan sarana pertanian malah terserap untuk mensukseskan proses monokultur. Dan lebih parahnya ini tidak hanya diabaikan, namun ada semacam penggusuran secara sistemik yang bermain dalam permukaan ekonomi mereka.

Bagaimana tidak, walaupun mereka tidak pernah kekurangan pangan namun mereka butuh sesuatu untuk bisa dijual dan menghasilkan uang demi pendidikan anak-anak mereka, pembangunan rumah, dan lain-lain. Sehingga perlahan, lahan padi mulai teralihfungsikan menjadi tanaman seperti kakao dan nilam. Dan itu pun belum mampu meningkatkan kesejahteraan.

Secara umum, ini sebuah potret ketimpangan. Terlihat karena persoalan identitas ini diabaikan oleh pemangku kebijakan, maka setiap pembangunan yang diciptakan tak mampu untuk meningkatkan kesejahteraan bagi petani lokal itu sendiri. Bahkan kita tahu bahwa realitasnya petani lokal adalah produsen pangan termiskin di Indonesia. Petani yang miskin ini mau tidak mau harus keluar dari desanya untuk mencari penghidupan di daerah perkotaan.

Citra petani lokal sebagai golongan yang miskin, buta huruf, kumuh, dan tidak berkembang muncul dari kegagalan mengangkat tingkat sosial ekonomi mereka. Akibatnya, semakin sedikit generasi muda yang mau jadi petani, bahkan semakin banyak orang berhenti menjadi petani.

Dari sini neolib menjadi momok besar sebagai sistem ekonomi yang telah sampai pada penjajahan gaya baru, yaitu perlahan mengubah arah kehidupan masyarakat hingga ke akar budaya dan identitas lokal.

Potret Desa Ratte menggambarkan bahwa masyarakat lokal sebenarnya memiliki sistemnya sendiri ketika berbicara dalam persoalan pengetahuan tentang pertanian dan ekologi. Namun karena pemangku kebijakan lebih berpihak pada tuntutan pasar dan kepentingan kapital, ruang hidup mereka perlahan terdesak. Mereka dipaksa masuk ke dalam arus ekonomi yang tidak mereka kuasai, belum lagi hasil kerja mereka tidak pernah benar-benar dihargai secara adil. Sehingga, kemiskinan petani terus berlanjut, lahan pangan beralih fungsi, dan generasi muda kehilangan keyakinan untuk melanjutkan tradisi bertani.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
Exit mobile version