Kaneneq Sebagai Konstruksi Kosmosentris : Analisis Pengetahuan Lokal Dalam Mitologi Mandar
Oleh : Ahmad Zaky
Kaneneq dalam mitologi Mandar tidak dapat dimaknai semata sebagai mitos dalam pengertian cerita fiktif yang tidak berdasar. Tulisan ini memposisikan Kaneneq sebagai konstruksi kosmosentris yang merepresentasikan local knowledge atau pengetahuan lokal masyarakat Mandar. Melalui pendekatan ini, mitos dipahami sebagai sistem pengetahuan yang mengatur relasi manusia dengan alam, membangun keteraturan sosial, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.
Mitos antara Kosmosentris dan Antroposentris
Dalam wacana ilmu pengetahuan modern, mitos kerap diposisikan sebagai narasi yang tidak rasional dan tidak dapat diverifikasi secara empiris. Pandangan tersebut berpijak pada kerangka antroposentris yang menempatkan akal dan pengalaman manusia sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Sementara itu, mitos lahir dari kerangka kosmosentris yang menempatkan alam semesta sebagai pusat kebenaran. Dalam kerangka ini, manusia diposisikan sebagai penerima tanda-tanda yang diberikan alam.
Perbedaan kerangka tersebut mengakibatkan mitos sulit dipahami melalui logika antroposentris. Namun demikian, hal ini tidak berarti mitos tidak dapat didekati secara rasional. Melalui pendekatan semiotika, misalnya yang dikembangkan Roland Barthes, mitos dapat dibaca sebagai sistem semiotika tingkat kedua yang mengandung makna konotatif serta berfungsi sebagai mekanisme ideologi untuk melanggengkan nilai-nilai dominan dalam masyarakat.
Kosmosentris sebagai Sistem Pengetahuan Lokal
Kosmosentris memandang alam sebagai sumber pengetahuan dan kebenaran. Manusia membaca alam melalui tanda-tanda yang muncul, seperti perubahan cuaca, perilaku hewan, atau siklus musim. Pengetahuan ini kemudian diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk narasi, larangan, dan ritual.
Dalam konteks ini, mitos berfungsi sebagai local knowledge yang memiliki tiga peran utama:
Regulasi ekologi : Membangun harmoni antara manusia dan lingkungan, misalnya melalui larangan menebang pohon besar atau merusak sumber air.
Regulasi sosial : Menanamkan nilai moral dan etika dalam relasi antarindividu maupun antara manusia dan alam.
Regulasi identitas : Membentuk citra diri dan karakter kolektif suatu komunitas.
Kaneneq sebagai Puanna Uwai dalam Struktur Sosial Mandar
Kaneneq atau Puanna Wai secara harfiah dapat dimaknai sebagai “yang diberi kekuasaan atas air”. Konsep “air” dalam hal ini tidak terbatas pada sungai, tetapi mencakup laut, aliran air alami, hingga infrastruktur air modern seperti bendungan dan saluran irigasi. Kepercayaan terhadap Kaneneq tersebar luas di kalangan masyarakat Mandar, tidak hanya pada komunitas yang bermukim di bantaran sungai.
Berdasarkan penuturan informan dari Desa Buku, terdapat perangkat adat yang disebut pa’bijaga dalam struktur pemerintahan adat setempat. Pa’bijaga bertugas mengatur dan mengelola relasi antara manusia dengan Puanna Wai. Kehadiran institusi adat ini menunjukkan bahwa Kaneneq bukan hanya narasi mitologis, melainkan juga bagian dari sistem tata kelola sosial dan lingkungan.
Implikasi Teoretis
Keberadaan pa’bijaga sebagai pengelola relasi dengan Kaneneq mengindikasikan bahwa mitos telah melembaga menjadi sebuah institusi sosial. Dalam perspektif ekologi budaya, hal ini dapat dipahami sebagai bentuk konservasi berbasis kearifan lokal. Praktik sesajen, misalnya, dapat dimaknai sebagai simbol penghormatan dan tanggung jawab timbal balik antara manusia dan alam, bukan sebagai bentuk penyembahan dalam pengertian teologis.
Penutup
Kaneneq sebagai konstruksi kosmosentris merupakan bentuk pengetahuan lokal yang berfungsi sebagai mekanisme adaptasi, regulasi, dan konservasi lingkungan. Mitos tidak lagi dipandang sebagai antitesis dari rasionalitas, melainkan sebagai alternatif epistemologi yang lahir dari pengalaman panjang manusia dalam berinteraksi dengan alam. Pemahaman ini penting dalam upaya mendialogkan pengetahuan lokal dengan kerangka ilmu pengetahuan modern, terutama dalam konteks keberlanjutan lingkungan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan