Rindu Kanene dan Kesombongan Rasionalitas
Ada cerita yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di sela percakapan sore, di tepian sungai, di ingatan yang diwariskan tanpa tanda tangan.
Di Mandar, cerita Rindu Kanene‘ (Kembar Buaya) kadang berbunyi pelan, seorang manusia memiliki saudara lain seekor buaya yang hidup di air, diam, tapi hadir sebagai penjaga. Sebagian orang menyebutnya dengan ungkapan yang lebih halus, lebih berjarak, tapi juga lebih dalam rindu buaya.
Kita tahu, dalam dunia kedokteran, tak ada ruang bagi kisah semacam itu. Tubuh manusia tunduk pada hukum biologi, pada kode genetik yang tak mengenal kompromi dengan spesies lain. Tak ada relasi kelahiran antara manusia dan buaya. Sains bekerja dengan batas yang tegas, dengan definisi yang dingin dan terukur. Di sana, rindu buaya tak menemukan tempat sebagai fakta.
Pun demikian Agama, memberi garis batas. Dalam Islam, kepercayaan pada hubungan gaib yang memberi kuasa selain Tuhan disebut tahayyul. Ia bisa tergelincir menjadi syirik, sebuah pengalihan pusat kepercayaan dari Yang Maha Esa kepada sesuatu yang lain, yang diciptakan, yang terbatas. Maka rindu buaya, jika diyakini sebagai kekuatan penjaga yang mandiri, menjadi sesuatu yang perlu diluruskan.
Tapi cerita tak pernah tunduk sepenuhnya pada garis batas. Sejarah manusia justru dipenuhi oleh mitos. Orang Yunani kuno berbicara tentang Zeus yang melempar petir, tentang dewa-dewa yang mencintai, cemburu, dan murka. Di India, epos Mahabharata bukan sekadar kisah perang, tapi juga cermin kosmos yang penuh makna. Di Timur Asia, bangsa Tiongkok hidup berdampingan dengan bayangan Naga, makhluk yang tak pernah benar-benar ada, tapi selalu hadir dalam simbol, perayaan, dan imajinasi kolektif.
Dan mereka tidak berhenti berkembang. di China, teknologi melesat, kota-kota tumbuh seperti hutan baja, dan ekonomi bergerak dengan kecepatan yang hampir tak terbayangkan. Tapi mitos tidak dibuang. Ia disimpan kadang dalam festival, kadang dalam arsitektur, kadang dalam cara orang tua menasihati anaknya.maka mungkin masalahnya bukan pada mitos. Barangkali yang sering keliru adalah cara kita memperlakukannya.
Ada pandangan yang sederhana, bahkan terlalu sederhana: bahwa sebuah bangsa akan tertinggal jika ia percaya pada mitos. Seolah-olah kemajuan hanya bisa lahir dari dunia yang sepenuhnya rasional, steril dari imajinasi, bebas dari simbol.
Tapi manusia bukan mesin, Ia hidup bukan hanya dari fakta, tapi juga dari makna. Mitos, dalam banyak kebudayaan, bukan sekadar cerita yang salah. Ia adalah bahasa lain, cara menjelaskan dunia ketika sains belum punya kata, atau ketika sains tak cukup memberi rasa.
Di Mandar, menyebut buaya sebagai “saudara” mungkin bukan klaim biologis, melainkan sikap. Sebuah etika. Sebuah cara menahan diri dari merusak, dari menguasai secara serakah. Ia mengandung peringatan: bahwa manusia tidak sendirian di dunia ini. Rindu buaya, dalam pengertian ini, bukan tentang hubungan darah, melainkan hubungan rasa sebuah kesadaran akan kedekatan yang tak kasatmata.
Di sana, mitos bekerja bukan sebagai fakta, tapi sebagai penjaga jarak. Tentu, ada batas yang perlu dijaga. Ketika mitos diangkat menjadi keyakinan mutlak yang menyaingi ajaran agama atau menafikan akal sehat, ia bisa menjadi masalah. Tapi ketika ia dibaca sebagai simbol, sebagai warisan kultural, ia justru memperkaya cara kita memahami diri.
Modernitas sering datang dengan semangat pembongkaran. Ia ingin membersihkan dunia dari yang tak bisa diukur. Tapi dalam proses itu, kadang ia lupa: manusia juga membutuhkan cerita.
Bukan untuk menggantikan kebenaran, tapi untuk menemani hidup yang tak selalu bisa dijelaskan. Maka rindu buaya itu barangkali bukan soal benar atau salah. Ia adalah cara lain untuk mengatakan bahwa ada hubungan yang lebih luas antara manusia dan alam. Hubungan yang dalam bahasa ilmiah, mungkin tak masuk akal. Tapi dalam bahasa budaya, terasa masuk hati. dan di situlah ia bertahan.
Wallahu a’lam bisshowab

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan