ESAI NARATIF

Catatan Refleksi Tiga Belas Tahun Liar: Dari Gagasan ke Gerakan, dari Sunyi ke Kesadaran

Disclaimer : Catatan ini disadur dari diskusi refleksi HARLA ke 13 Liar Sulbar oleh moderator. 

Tiga belas tahun bukan sekadar usia bagi Liar, ia adalah lapisan-lapisan waktu yang menumpuk menjadi kesadaran. Membaca perjalanan Liar hari ini berarti membaca sebuah upaya panjang untuk tetap setia pada gagasan, di tengah dunia yang sering kali tergesa dan dangkal. Ia bukan gerakan yang dibangun dari  gemuruh, melainkan dari ketekunan yang sunyi dari proses berpikir yang terus dipelihara, bahkan ketika tidak selalu dimengerti.

Sejak awal, Liar memilih berdiri sebagai gerakan pengetahuan, bukan pengetahuan yang dibekukan dalam ruang kelas formal, tetapi yang hidup, bergerak, dan tumbuh dari pengalaman. Di sini, pengetahuan tidak diwariskan secara satu arah, melainkan diproduksi bersama, diperdebatkan, dan diuji dalam realitas. Maka, keintelektualan Liar bukanlah kemewahan akademik, tetapi alat perjuangan.

Dari rahim kegelisahan itu, lahirlah gagasan alternatif tentang pendidikan yang tidak melulu bergantung pada figur otoritas. “Sekolah tanpa guru” bukan penolakan terhadap pengetahuan, melainkan kritik terhadap hierarki yang mematikan daya pikir. Di dalamnya, setiap orang menjadi pembelajar sekaligus pengajar, menjadi subjek yang aktif, bukan objek yang pasif. Begitu pula dengan pendidikan pertanian alami yang selama ini digandeng Liar sebagai alat pengorganisasian rakyat, ia menghadirkan kesadaran bahwa belajar tidak terpisah dari tanah, dari kehidupan, dari ekologi. Pengetahuan kembali ke akar: membumi, kontekstual, dan membebaskan.

Dalam perjalanannya, Liar tidak hanya melahirkan wacana, tetapi juga manusia. Ia menjadi ruang yang menumbuhkan CO (community organizer), penulis, jurnalis, Fasilitator, hingga periset individu-individu yang tidak hanya berpikir, tetapi juga bertindak.

Mereka bukan produk instan, melainkan hasil dari proses panjang yang ditempa oleh diskusi, perdebatan, dan keberanian untuk salah lalu belajar kembali. Ini menunjukkan bahwa Liar bukan sekadar komunitas ide, tetapi juga mesin kaderisasi kesadaran.

Lebih dari itu, kekuatan Liar terletak pada kemampuannya memantik orang untuk berpikir sebagaimana mandat sosok pendiri Kak Aswan Achsa, Liar adalah Laboratorium.

Ditengah dunia yang cenderung menerima segala sesuatu secara mentah, Liar hadir sebagai “gangguan” dalam arti paling positif. Ia mengajak orang untuk bertanya, meragukan, dan membongkar apa yang dianggap mapan. Pendidikan kritis tidak diajarkan sebagai teori kosong, tetapi dipraktikkan sebagai cara hidup: membaca realitas dengan sadar dan berpihak.

Karena itu, Liar bisa disebut sebagai komunitas berpikir, sekaligus bengkel manusia. Sebuah ruang di mana individu diproses, ditempa, bahkan “dibongkar” dan menyusun ulang dirinya. Di sini, berpikir bukan aktivitas elitis, tetapi kerja kolektif yang menggerakkan. Pikiran tidak berhenti di kepala, tetapi mengalir menjadi tindakan. Dari diskusi, lahir langkah. Dari keresahan, lahir gerakan.

Namun yang paling penting, seluruh perjalanan ini tidak pernah netral. Liar memilih jalan yang tegas: keberpihakan pada kaum tertindas, pada mustadafin dan kaum yang terpinggirkan lainnya. Ini bukan sekadar slogan, tetapi orientasi yang tercermin dalam kerja-kerja nyata. Pengetahuan yang dibangun selalu ditarik kembali ke pertanyaan dasar: untuk siapa? untuk apa? Dalam konteks ini, Liar menegaskan bahwa berpikir tanpa keberpihakan hanyalah kemewahan, sementara berpikir yang membebaskan adalah tanggung jawab.

Maka pada usia ke-13 ini, Liar berdiri sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar organisasi komunitas. Ia adalah kesadaran yang terus bertumbuh, gerakan yang belum selesai. Namun di tengah semua capaian itu, ada satu refleksi kritis yang penting: bagaimana menjaga agar Liar tidak menjadi mapan dalam dirinya sendiri? Bagaimana memastikan bahwa semangat alternatif tidak berubah menjadi dogma baru? Karena tantangan terbesar dari gerakan yang bertahan lama adalah godaan untuk merasa selesai.

Tiga belas tahun adalah usia di mana kematangan diuji. Bukan lagi tentang bagaimana bertahan, tetapi bagaimana tetap relevan, tetap tajam, dan tetap radikal dalam berpikir. Jalan sunyi yang selama ini ditempuh harus terus dijaga, bukan sebagai simbol kesendirian, tetapi sebagai komitmen untuk tidak larut dalam arus yang meninabobokan.

Liar telah membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang-ruang kecil, dari percakapan sederhana, dari keberanian untuk berpikir berbeda. Dan selama komitmen itu terus hidup, selama keberpihakan itu tetap dijaga, maka perjalanan ini belum dan tak akan berhenti. Justru, ia sedang menuju babak yang lebih menantang, dan lebih bermakna.

Selamat Memperingati hari jadi Lembaga Inspirasi Anak Rakyat (LIAR SULBAR) : semoga kedepan bisa terus menginspirasi gerakan pengetahuan, yang memanusiakan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
Exit mobile version