ESAI NARATIF

Dari Hegel ke Fukuyama: Ideologi, Hegemoni Barat, dan Konflik Peradaban

“Sebuah refleksi filosofis atas perang dan dominasi politik global dalam perspektif teori akhir sejarah dan benturan peradaban”

Tulisan ini dibuat dari analisa penulis terkait persoalan krisis politik yang terjadi belakangan ini, bagaimana perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Sedikit tulisan ini akan memandang masalah ini dari balik corak ideologi yang bermain di belakangnya. Hal yang menarik di sini ialah bahwa sebelum perang ini terjadi, Amerika Serikat sebagai negara penganut demokrasi liberal telah melakukan banyak sekali operasi politik global untuk menggulingkan rezim pemerintahan negara berkembang yang tidak tunduk dengan kesepakatan yang ditawarkannya.

Sejak peristiwa yang terjadi di Libya, Irak dan pemimpinnya Saddam Hussein, hingga yang baru-baru ini dialami oleh Iran dan Venezuela. Dengan tuduhan yang sama sekali tidak punya bukti, Amerika dengan sewenang-wenang melakukan ancaman, intimidasi, hingga operasi militer.

Terlepas dari arus ekonomi-politik yang terus dibahas oleh kebanyakan orang, penulis ingin mencoba melihat ini dengan kacamata yang berbeda—yang berangkat dari sejarah wacana yang digembor-gemborkan oleh pemikir sayap kanan yang memiliki keterkaitan kuat dengan krisis yang terjadi saat ini.

Masalahnya bermula sejak Hegel yang berpikir tentang akhir sebuah sejarah yang dimenangkan oleh kebebasan manusia dalam berpikir. Hegel memandang bahwa dalam proses dialektika yang terjadi dalam sejarah umat manusia akan berakhir setelah monarki absolut runtuh dan saat itu pula negara muncul sebagai perwujudan dari roh absolut. Negara menandai tahap di mana manusia mendapatkan kebebasan yang tak dapat diterima di zaman teokrasi sebelumnya. Maka dari itu, kehancuran sistem teokrasi feodal dalam pertempuran Jena yang terjadi di Prussia dianggap sebagai akhir sebuah kemenangan umat manusia menuju ideologi yang sempurna yang disebutnya sebagai “negara universal”.

Ini kemudian dibenarkan oleh Francis Fukuyama dalam banyak tulisan yang dibuatnya untuk memperkuat posisi demokrasi liberal sebagai pemenang atas perang ideologi yang terjadi dalam beberapa abad belakangan. Francis Fukuyama, pemikir terkemuka Amerika Serikat dengan wacana liberalismenya, melegitimasi kemenangan negara-negara Barat dalam pertempuran ideologi dalam beberapa tahun ini, sejak runtuhnya fasisme setelah Perang Dunia Kedua dan jatuhnya komunisme setelah Perang Dingin. Menurut Fukuyama, hal ini menandai tahap akhir sebuah peradaban manusia.

Menurutnya, demokrasi liberal akan diterima oleh semua masyarakat global karena berbagai alasan. Pertama, persoalan perubahan atau evolusi sistem ideologi dari monarki absolut, fasisme, komunisme, hingga pada akhirnya demokrasi liberal yang dianggap sebagai sistem sempurna yang layak dipakai oleh masyarakat modern hari ini. Kedua, persoalan psikologi thymos yang memandang bahwa demokrasi liberal memungkinkan setiap orang diakui setara dengan orang lain, sedangkan dalam sistem sebelumnya pengakuan itu tidak didapatkan. Ketiga, sebagai sistem yang memberikan kebebasan bagi setiap orang. Dan terakhir, persoalan ekonomi yang akan membawa setiap individu dan negara masuk dalam pasar bebas yang nantinya menumbuhkan inovasi dan kesejahteraan banyak orang.

Namun apakah sejarah betul-betul telah berakhir? Dan apakah sejarah benar-benar dimenangkan oleh demokrasi liberal yang nantinya layak dipakai oleh setiap kalangan manusia?

Ini sangat menarik, sebab dari sudut pandang lain, Fukuyama mendapatkan kritik yang sangat kuat dari Samuel P. Huntington, salah seorang pemikir politik yang juga berasal dari Amerika, melalui karyanya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. Huntington memandang bahwa kemenangan demokrasi liberal atas fasisme dan komunisme tidak serta-merta menyelesaikan konflik yang terjadi, sebab persoalan ini bukan hanya persoalan ideologi, tetapi tentang nilai peradaban yang berbeda dibawa oleh setiap manusia.

Menurut Huntington, konflik masa depan adalah konflik peradaban yang disebutnya sebagai “benturan peradaban”, di mana di berbagai belahan dunia peradaban tidak hanya satu seperti yang dibawa oleh Barat. Ada peradaban lain seperti Islam, Konfusius (Tiongkok), Hindu, Ortodoks, dan lain sebagainya, yang benturannya tidak bersandar pada ideologi lagi, tetapi pada tataran nilai dan peradaban.

Selain itu, demokrasi liberal bukan nilai universal; demokrasi liberal adalah produk dari Barat. Bagaimana dengan China? Ia punya sistem yang berbeda. Begitu pula dengan Rusia. Dan Iran pada hari ini dengan nilai keislamannya kemudian masuk dalam konfrontasi dengan Amerika Serikat.

Ini menandakan bahwa keegoisan negara Barat dengan legitimasi intelektual yang dibawa oleh orang seperti Fukuyama akan terus menimbulkan perang yang berkepanjangan. Dan perlu dilihat bahwa upaya Amerika Serikat dengan dominasi dan hegemoninya, yang ingin menciptakan manusia dalam dimensi yang satu, akan terus berlanjut hingga cita-cita Hegel dan Fukuyama bisa terlaksana dengan baik. Dan akhirnya konflik itu tidak terelakkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
Exit mobile version